Tanamkan Budaya Malu, Pembina Upacara MTsN 2 Kota Padang Dorong Lahirnya Generasi Bermutu

MTsN 2 Kota Padang, Humas – Membangun generasi bermutu tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kedisiplinan, dan akhlak mulia. Pesan tersebut menjadi penekanan dalam amanat pembina upacara bendera di MTsN 2 Kota Padang yang mengangkat tema pentingnya menanamkan budaya malu untuk membentuk generasi bermutu.

Upacara bendera yang berlangsung khidmat dilapangan madrasah pada Senin (2/11/2026)  dilaksanakan oleh murid-murid kelas 9.6 dengan pembina upacara Rini Yusfa, S.Pd., guru mata pelajaran IPA.

Upacara diikuti oleh Kepala Madrasah, Kepala Urusan Tata Usaha (Kaur TU), para wakil kepala madrasah, majelis guru, tenaga kependidikan, serta guru muda dari mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Universitas Negeri Padang (UNP) serta murid-murid yang belajar pada shift pagi.

Dalam amanatnya, Rini Yusfa menyampaikan bahwa budaya malu merupakan salah satu fondasi penting dalam membentuk pribadi yang berkarakter, berintegritas, dan bertanggung jawab. Menurutnya, rasa malu bukanlah sesuatu yang membuat seseorang menjadi rendah diri, melainkan kesadaran diri untuk menghindari perilaku yang tidak pantas dan bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan.

“Budaya malu harus kita tumbuhkan dalam diri setiap peserta didik. Malu bukan berarti takut atau minder, tetapi merupakan bentuk kesadaran bahwa kita harus senantiasa menjaga sikap, perilaku, dan tanggung jawab sebagai pelajar maupun sebagai anggota masyarakat,” ujar Rini Yusfa.

Lebih lanjut, ia menguraikan lima perilaku yang perlu ditanamkan sebagai wujud nyata budaya malu dalam kehidupan di madrasah maupun di lingkungan masyarakat.

Pertama, malu datang terlambat. Menurutnya, datang tepat waktu merupakan cerminan kedisiplinan dan penghargaan terhadap waktu. Murid hendaknya membiasakan diri hadir sebelum kegiatan dimulai, baik saat mengikuti pembelajaran maupun kegiatan madrasah lainnya.

Kedua, malu menyontek pekerjaan orang lain. Ia menegaskan bahwa kejujuran merupakan nilai utama yang harus dimiliki setiap pelajar. Menyontek bukanlah jalan untuk meraih keberhasilan, melainkan kebiasaan yang dapat merusak integritas dan menghambat kemampuan diri. Prestasi sejati lahir dari usaha, kerja keras, dan kemampuan sendiri.

Ketiga, malu membuang sampah sembarangan. Rini Yusfa mengajak seluruh warga madrasah untuk memiliki kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Menjaga kebersihan bukan semata-mata tugas petugas kebersihan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama yang mencerminkan karakter dan kepedulian seseorang.

Keempat, malu berkata kasar dan kotor. Ia mengingatkan bahwa tutur kata merupakan cerminan kepribadian. Murid=murid hendaknya membiasakan berbicara santun, menghormati guru, menyayangi teman, serta menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti dan merendahkan orang lain.

Kelima, malu tidak bertanggung jawab. Setiap murid harus berani melaksanakan tugas dan kewajibannya serta bersedia mengakui kesalahan apabila melakukan kekeliruan. Sikap bertanggung jawab merupakan bagian penting dari kedewasaan dan karakter generasi bermutu.

“Jika lima budaya malu ini benar-benar kita terapkan, insyaallah madrasah akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak yang baik, disiplin, jujur, peduli lingkungan, dan bertanggung jawab. Inilah generasi bermutu yang kita harapkan bersama,” punkasnya.

Melalui pelaksanaan upacara bendera dan penyampaian pesan-pesan pendidikan karakter tersebut, MTsN 2 Kota Padang terus berupaya memperkuat pembinaan karakter peserta didik. Budaya malu diharapkan tidak berhenti sebagai slogan atau sebatas amanat dalam upacara, tetapi menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari seluruh warga madrasah.